![]() |
This is WAR.... beibeh..!! |
Ngomongin sejarah lagi nyok..? Kali ini saya ingin menulis tentang Norman Conquest dan Pertempuran Hastings. Norman Conquest bukanlah nama si polisi narsis yang hobi ber chaiya-chaiya di Youtube (Please.. Itu gak ada hubungannya dengan sejarah) , melainkan peristiwa
penaklukan Inggris oleh bangsa Normandia yang dipimpin oleh Duke William II
(The Conqueror) yang terjadi pada tahun 1066. Diawali dari intrik perebutan
kekuasaan antara William II dan Harold II (Raja Inggris saat itu) dan diakhiri
dalam pertempuran Hastings. Penaklukan ini sangat besar pengaruhnya bagi Inggris
dimasa depan. Tapi, apa sebenarnya yang terjadi? Siapakah William the Conqueror
sesungguhnya? Kenapa dia sangat berambisi untuk menjadi raja..?? Check it out
aja ya....!! Tapi sebagai peringatan POST INI SANGAT PANJANG JADI MOHON
BERSABAR UNTUK MEMBACANYA. :D
WILLIAM, SEORANG CALON PENGUASA TELAH LAHIR
William dilahirkan
sekitar tahun 1027 di Falaise sebuah kota di Normandia, Perancis. Dia adalah
anak hasil hubungan gelap antara Robert I, Duke of Normandi dan Herleva, seorang
gadis dari Falaise. Masa kecilnya sangat keras, beberapa kali dia menjadi
target pembunuhan, bahkan tidak sedikit orang memanggilnya dengan julukan “The
Bastard”, bahasa keren untuk "Anak haram". Ketika Robert I meninggal pada tahun 1035, William menjadi pewarisnya
karena dia adalah satu-satunya anak laki-laki Robert. Jadi, pada usia 7 tahun,
William sudah menjadi pangeran Normandia. Meskipun demikian, menjadi seorang
penguasa diusia yang sangat muda bukanlah hal yang mudah. Pemberontakan dan
kudeta mulai bermunculan. Tak mengherankan, sebab para bangsawan lain banyak
yang tidak menyukai William. (Hemmm...!! coba kalo saya jadi bangsawan, saya
mungkin juga akan berfikir begini: memang siapa William? Asal-usulnya saja
tidak jelas, Ibunya hanya rakyat jelata, dan dia hanyalah anak kecil yang tak
bisa apa-apa. Jadi kenapa saya tunduk sama dia? Kenapa bukan saya saja yang
jadi Duke of Normandy? Toh saya lebih ganteng, keren, tenar,kuat. Harusnya saya
donk yang lebih cocok jadi penguasa...!! KENAPA..?? KENAPA BUKAN SAYA YANG
BERKUASAAA...???? *diteriakkan dengan nada penuh amarah*).
Nah... anggap saja para bangsawan di
masa itu sesinting saya, akhirnya terjadilah banyak anarki sampai-sampai tiga
pengawal William menjadi korban, bahkan guru pribadinya pun ikut tewas. Dengan
bantuan Henry I, raja Prancis waktu
itu, William berhasil bertahan hidup. Pada tahun 1042, William menerima
gelarnya sebagai perwira militer kehormatan dan mulai melakukan agresi terhadap
para pemberontak. Dengan bantuan Henry I, ia berhasil memenangkan pertempuran
dengan gilang-gemilang. Kedudukan William semakin mantap dalam pemerintahan. Ia
menikahi seorang bangsawan bernama Matilda
(of Flanders) pada tahun 1053 di gereja Notre Dame dan dikarunia 4 putra dan 6
putri. ^_^
![]() |
Hay... kenalan dulu yuk..!! Ini gue William si calon Raja. |
Merasa terancam oleh kepopuleran William
yang melesat tinggi bak pesawat sukhoi dan kekuasaannya yang baru setelah
sukses mempersunting sang putri bangsawan, Raja Henry I pun menghianati William
dan menyerang Normandia. Dua kali ia melakukan serangan dan dua kali pula ia
gagal (tahun 1054 dan 1057). Namun bukan hanya kerajaan Perancis saja yang
menjadi ancaman, penghianatan juga datang dari The Earl of Arques, paman William sendiri. Dengan keberanian dan
tekat keras, William, yang saat itu baru menginjak usia 20 tahun, berhasil
melibas lawannya satu-demi satu dan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin
karismatik yang dicintai oleh seluruh rakyat Normandia. Tidak lama kemudian,
tepatnya pada tahun 1060, Raja Henry I meninggal dunia. Putranya Phillip diangkat menjadi the next King
dibawah pengawasan ayah mertua William, Baldwin.
Selain itu, kekuatan bangsawan lainnya juga melemah seiring kematian Geoffrey, sang penguasa Anjou yang juga
merupakan sekutu Raja Henry I. Akhirnya, tinggalah William di posisi puncak,
sebab kini kerajaan Perancis yang dulunya menjadi ancaman terbesar Normandia
tidak lagi menjadi “sebuah ancaman” dan bangsawan lainpun enggan menyerang
William. Dengan kekuatan barunya itu, masa-masa penaklukkan William pun
dimulai. Mula-mula ia mengincar Le Mans dan kemudian
menaklukkan Maine, sebelum akhirnya memfokuskan ambisinya pada sasaran yang
lebih besar, England.
ENGLAND.....!! I AM
COMING.........!! \(^o^)/
Sebelum
lanjut ke riwayatnya si Will, kita intermezzo dulu yuk...!!
~~~~~~***~~~~~~
Dahulu
kala... di sebuah kerajaan nan elok bernama Normandia, hiduplah seorang putri
yang sangat cantik jelita bernama Emma.
Saking cantiknya, dia sampai dijuluki sebagai “Permata Normandia” (Udah
kebayang kan seberapa cantiknya si Emma ini..?). Nah, Emma ini selalu membayangkan
suatu saat nanti akan ada seorang Prince Charming yang datang ke kerajaannya
dan melamar dirinya dengan mas kawin sebidang tanah kerajaan lengkap dengan
istana megah. Tentu saja banyak sekali orang yang ingin melamar si Emma. Namun
sialnya, ia malah dinikahkan dengan seorang duda jelek beranak satu yang
(sialnya lagi) memiliki kelainan psikologis dan rada-rada sadokis bernama Ethelred.
![]() |
Titisannya si 'Emma'. hehehe... ^_^ |
Ethelred
benar-benar bukan seorang Prince Charming, bahkan seorang pria berhati lembut
macam bapaknya Emma pun tau kalau Ethelred adalah seorang pengecut yang punya
hobi balas dendam. Namun Ethelred datang ke Normandia dengan gilang-gemilang,
membawakan mas kawin yang selama ini sangat di idam-idamkan oleh Emma:
Sertifikat tanah bertuliskan “ENGLAND”. Singkat kata merekapun akhirnya menikah
dan dikaruniai dua orang anak: Edward
(gak pake Cullen) dan Alfred (jangan
dibaca ‘kampret’, please..!!).
Ke(tidak)bahagiaan
pasangan muda ini pun terusik saat sepasukan orang Denmark datang dan
mengobrak-abrik istana mereka. Merasa terancam, Ethelred yang terlahir bukan
sebagai prince charming, mengajak Emma melarikan diri pulang ke rumah sang
mertua. Dalam masa-masa sulit itulah dia meninggal dunia. Merasa masih muda dan
gak rela hidup menjanda, Emma pun menikah lagi dengan raja baru England, Canute. Canute memang musuh Ethelred,
namun dia sekarang adalah Raja. Edward dan Alfred ditinggal di Normandia
bersama sang kakek. Istilah kerennya sih diasingkan, sebab Emma takut suami
barunya , yang kelihatannya tidak lebih charming dari yang pertama, akan
mencincang mereka kalo sampai tau anak-anak imut itu berkeliaran di England.
~~~~End
of the INTERMEZZO~~
Nah..
udah tau kan arah ceritanya lanjut ke mana...?
^___^
Si
Emma ini, yang notabene hobi menikahi raja-raja lalim, tak lain dan tak bukan
adalah bibi dari William. Ia menitipkan anaknya untuk tinggal di Normandia,
Edward dan Alfred, yang kelak akan menjadi penerus tahta England. Sejarah
mencatat kalau Edward, the heir of the iron throne, sama sekali tidak berminat
untuk menjadi Raja. Ia lebih suka hidup tenang di pedesaan Normandia, lebih
suka mendalami agama daripada berperang, pokoknya hidup tenang lah. Edward dan
William kenal satu sama lain sebab mereka dibesarkan di tempat yang sama.
Edward mengakui potensi William, bahkan di satu kesempatan ia pernah berkata
akan mengangkat William sebagai pewarisnya kalau kelak ia menjadi Raja. Masih
belum jelas apakah Edward benar-benar serius akan ucapannya atau hanya
bercanda, namun sepertinya William menganggap ucapan itu sebagai sesuatu yang
sangat serius.
Singkat
cerita.. Canute meninggal dunia. Harcanute, putra Canute dari pernikahannya
dengan Emma, meninggal tak lama setelah memegang tahta. Kekuatan Denmark
melemah dan Edward’pun dipanggil pulang dan menjadi Raja. Ia bergelar “The Confessor” karena hobinya
pergi ke gereja, membangun gereja dan melakukan pengakuan dosa. Intinya dia
seperti pendeta dalam wujud Raja.
Tidak
lama setelah Edward bertahta, William datang berkunjung ke England dan
mengingatkan Edward akan janjinya dulu. Ia berkata bahwa karena Edward tidak
memiliki keturunan, maka William yang merupakan keluarga terdekatnya dari pihak
ibu adalah orang yang paling tepat untuk menjadi pewaris. Edward tidak
mengiyakan dan juga tidak menolak klaim William sebab saat itu ia masih sangat
galau. Ada seseorang disana yang juga ingin mengklaim tahta. Namanya adalah Harold, dan dia adalah putra Godwin,
“The Most Powerful Earl” pada waktu itu. Sialnya lagi, Harold juga merupakan
saudara ipar Edward dan itu membuat kedudukannya jauh lebih kuat dari William
yang hanya orang asing di England.
Next.. Edward membuat rencananya sendiri. Ia membawa
pewarisnya sendiri, seorang pangeran dari Hungary bernama Edward (yuphh... nama mereka sama. Kalian jangan bingung ya..!). Namun sang pangeran malah meninggal tak lama setelah
menginjakkan kakinya di tanah England. Akhirnya tak ada pilihan lain bagi
Edward selain mendukung William. There is something bitter dalam hubungan Harold dan Edward. yang menyebabkan “everyone
is better than Harold” dalam kamus si Raja. -____-
William memang telah mendapatkan
‘restu’ Edward, namun bukan berarti ia sudah bebas melenggang menuju tahta. Dalam
kasus Edward yang tidak memiliki keturunan darah, pewaris tahta kerajaan
tidaklah ditentukan oleh dirinya seorang melainkan oleh sebuah institusi
politik bernama Witenagemot. Jadi..
hal pertama yang harus dilakukan oleh William adalah meyakinkan komite serta
membuat perjanjian dengan para bangsawan untuk mendukungnya. Sebuah kesempatan
besar muncul ketika William berhasil menangkap Harold, rival terbesarnya,
terdampar di pantai Normandia. Meskipun menjadi tahanan (tahun segitu memasuki
wilayah negara lain tanpa ijin adalah ilegal), William tetap memperlakukan
Harold dengan ramah. Ia bahkan menyiapkan perjamuan lengkap dengan
wanita-wanita cantik untuk menghibur Harold. Tentu saja William memiliki maksut
tersembunyi di balik tindakan terpujinya itu, ia meminta Harold bersumpah 3 hal di depan relik suci: (1) Harold akan menyerahkan satu
putrinya untuk dinikahkan dengan bangsawan Normandia, (2) Harold akan menikahi
putri William (3) Harold akan mendukung sepenuhnya klaim William akan tahta
England. Harold berkata YA untuk semua janji itu namun dalam hati ia mencari
cara untuk menyingkirkan William. Pada tahun 1066 Raja Edward meninggal dalam
damai. Sepertinya ia benar-benar tidak perduli akan siapa yang kelak menjadi pewarisnya.
William sangat percaya diri bahwa dialah yang terpilih. Setelah tebar pesona
kesana-kemari plus sekarang Harold tidak lagi menjadi ancaman, ia merasa bahwa takdirnya sebagai Raja sudah sangat nyata. Jadi ketika hasil musyawarah diputuskan dan Harold lah yang
terpilih menjadi Raja, anda bisa bayangkan sendiri seberapa merahnya wajah
William saat itu.
THE HASTINGS, THE END OF HAROLD
Begitu kabar pengangkatan Harold
sebagai Raja sampai ke Normandia, William sangat berang. Ia mengirimkan
messenger ke England untuk mengingatkan Harold akan janjinya. Dengan tenang
Harold menjawab bahwa ia tidak menganggap janji yang dibuat didepan benda
seperti relic adalah sebuah “janji” yang mengikat. Merasa dikhianati, William
pun segera menyiapkan pasukan untuk menyerang England. Tidak kurang dari 10.000
pasukan dan 696 kapal dikerahkan dalam penyerangan itu. Pasukan William terus
bertambah seiring datangnya bala bantuan dari Perancis, Brittany, Italy dan
Flander. Di England sendiri, Harold mengumpulkan pasukannya dan bersiap-siap
untuk mempertahankan selat. Namun, angin yang tidak bersahabat membuat
penyerangan tertunda selama 8 bulan. William berusaha mempertahankan pasukannya
selama masa-masa penantian itu, namun di sisi lain selat, pasukan Harold mulai
kewalahan karena mereka tidak membawa cukup banyak persediaan makanan. Pada
tanggal 8 September, bertepatan dengan musim panen, ia membubarkan pasukannya
dan membiarkan selat tak terjaga.
Kemudian, munculah satu lagi orang yang ingin merebut tahta.
Harald III dari Norwegia. Ia telah
mendarat di York dan merupakan sebuah ancaman yang lebih ‘mengancam’ bagi
Harold dan pasukannya. Harold berhasil memukul mundur pasukan Harald pada 25
September (dalam Battle of Stamford Bridge). Namun pada 28 September, pasukan William berhasil mendarat
di England. Mereka berkumpul di suatu padang bernama Hastings, menunggu kedatangan pasukan Harold dari utara. Disinilah
pecah pertempuran yang kelak menjadi salah satu pertempuran paling penting
dalam sejarah England. Pertempuran Hastings atau The Battle of Hastings.
Masing-masing pihak sama-sama kuat, dan masing-masing pihak
memiliki jumlah pasukan yang nyaris seimbang. Petempuran itu berlangsung seharian
penuh tanpa ada pihak yang menyerah. Lalu Williampun mengangkat helm’nya
tinggi-tinggi dan berteriak pada para pasukannya bahwa dia masih hidup,
membakar semangat para Norman untuk bertarung. Pasukan Normandia menang,
sebagian berkata mereka menang karena memiliki pasukan pemanah (Harold tidak
membawa pasukan pemanah). Harold tewas dalam pertempuran itu, begitu pula kedua
saudaranya Gyrth dan Leofwine Godwinson. Legenda mengatakan kalau ia tewas
tertembus anak panah di mata.
![]() |
England Army: "Bos.. kita gak punya panah" King Harold: "tenang saja, kita libas mereka dengan cinta." |
WILLIAM DI ENGLAND
Setelah berhasil memenangkan pertempuran, William menunggu
dengan sabar pengakuan kekalahan dari rakyat England. Namun sialnya, Witenagemot
malah memilih Edgar Ætheling sebagai raja, meskipun tanpa pengangkatan. William
memulai perjalanannya ke London untuk menuntut haknya. Namun beberapa kali ia
dihalangi oleh rakyat yang mati-matian memblokade jembatan. Setelah sedikit
bersusah payah, akhirnya ia berhasil meyakinkan Archbishop untuk
menyerah, dan kemudian seluruh rakyat London pun menyerah kalah. Upacara
penobatannya dilangsungkan di hari Westminster
Abbey tepat pada hari natal natal
tahun 1066.
William menjadi raja. Namun saya berani mengatakan kalau
memerintah tanah England itu jauh lebih sulit dari tanah manapun di dunia. Di
awal kekuasaannya, rakyat tidak bisa menerima penaklukkan William dengan senang
hati, karena William adalah orang Normandia, sementara sebagian besar rakyat
Inggris pada waktu itu adalah orang Anglo Saxon. Pemberontakan terus terjadi di
nyaris semua bagian negeri. Untuk meminimalisasikan pemberontakan, William
mengatur beberapa taktik, diantaranya adalah dengan mengklaim semua tanah di
England adalah miliknya kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang
kepercayaannya. Ia juga mengurangi peran para Earl dan bangsawan lain dalam
pemerintahan. Kastil-kastil kuat dibangun di hampir seluruh pelosok negeri
untuk meningkatkan pengawasan. Namun faktanya, William lebih sering
menghabiskan masa pemerintahannya di Normandia daripada di England.
Pemerintahan England ia serahkan kepada dua orang saudara tirinya, Odo dan Robert.
William meninggal pada usia 59 tahun di Rouen, Normandia akibat jatuh dari
kuda. Ia dimakamkan pada 9 September 1083 di Caen, Normandia. Sebelum
meninggal, ia bertitah bahwa putranya, Robert, akan menggantikan dia sebagai
Duke Normandia, dan putra keduanya, William Rufus, sebagai The King of England.
~~~~~***~~~~
1. William the Conqueror dikenal sebagai William II of Normandi (gelar William I telah lebih dulu disandang oleh kakek buyutnya, William Longsword), di England dia bergelar William I karena dia raja England pertama dengan nama William. Jadi mohon jangan bingung ya kalau beberapa sources menyebutnya sebagai William I. :D
2. William adalah keturunan Viking, meskipun dia berbicara
dengan dialek Perancis, terlahir di Normandia dan mengabdi pada kerajaan
Perancis. Di awal abad ke 10, kakek buyut William, Rollo, datang ke utara
Perancis dengan sepasukan tentara Viking dan melakukan penjarahan. Tanah Normandia diberikan padanya sebagai
tanda perdamaian.
3. William sempat patah hati saat Matilda of Flanders
menolak lamarannya dengan alasan “Aku tak mau menikah dengan seorang Bastard.” (-___-)
4.
William tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Namun
sejak kesuksesannya menaklukkan England, ia tidak perlu membawa translator lagi
jika ingin berkunjung ke England, sebab sekarang orang-orang England lah yang harus belajar bahasa
Perancis.
5. William terkenal sebagai pemuda tampan dan sexi di masa
mudanya, namun menginjak hari tua tubuhnya membesar sampai-sampai Raja Perancis
waktu itu menjulukinya sebagai “a
pregnant woman about to give birth.”
6. Saking gemuknya, sampai-sampai peti mati pun tak muat
untuk menampung tubuhnya.
7. Jutaan orang dianggap sebagai keturunan William, setiap
keluarga bangsawan Inggris termasuk ratu Elizabeth II juga dianggap sebagai
keturunan William. Beberapa ahli berpendapat bahwa 25 persen dari populasi
England saat ini adalah keturunan William atau memiliki darah Norman dalam diri
mereka.
8.
Nama “William” menduduki posisi ke 8 sebagai “nama yang paling umum
digunakan di Inggris”.
Sumber: Bukunya Jacob Abbot yang berjudul "William The Conqueror", beberapa pdf, random file dari Internet dan tentunya Wikipedia.
Thanks diceritain dalam bahasa indonesia yah! Gampang dimengerti :)
BalasHapusthnx bro atas artikelnya :D
BalasHapushalo aku mau tana. untuk kalimat bagian "melainkan peristiwa penaklukan Inggris oleh bangsa Normandia yang dipimpin oleh Duke William II (The Conqueror) yang terjadi pada tahun 1066" itu william II atau I, ya? soalnya aku baca dr banyak sumber, william I bukan II. maaf kalo aku kurang paham :D
BalasHapusMaaf baru balas. Di Normandi William the Conqueror dikenal sebagai William 2 (William I of Normandi a.k.a William Longswort itu kakeknya Emma). Di Inggris, William the conqueror dikenal sebagai William I karena dia Raja pertama yg bernama William. :)
HapusPenggemar serial TV bernuansa sejarah seperti Vikings, Outlander, Marco Polo, Borgias, Rome dan sejenisnya silahkan join di grup FB :https://www.facebook.com/groups/789485581235117/
BalasHapusWilliam adalah salah satu raja Inggris terbesar
BalasHapussiapapun dirimu :3 terima kasih. artikelnya sangat membantu. jadi mudah di cerna otak. sebenarnya aku kurang suka sejarah karena susah dipahami. tapi thanks, berkat dirimu aku jadi mudah mengerti ceritanya. aku tunggu cerita-cerita lain dari artikel kamu :)
BalasHapusGaya bahasa nya cukup menarik
BalasHapus