Jumat, 26 April 2013

WILLIAM SANG PENAKLUK DAN PENAKLUKAN ENGLAND



pertempuranhastings
This is WAR.... beibeh..!!

      Ngomongin sejarah lagi nyok..? Kali ini saya ingin menulis tentang Norman Conquest dan Pertempuran Hastings. Norman Conquest bukanlah nama si polisi narsis yang hobi ber chaiya-chaiya di Youtube (Please.. Itu gak ada hubungannya dengan sejarah) , melainkan peristiwa penaklukan Inggris oleh bangsa Normandia yang dipimpin oleh Duke William II (The Conqueror) yang terjadi pada tahun 1066. Diawali dari intrik perebutan kekuasaan antara William II dan Harold II (Raja Inggris saat itu) dan diakhiri dalam pertempuran Hastings. Penaklukan ini sangat besar pengaruhnya bagi Inggris dimasa depan. Tapi, apa sebenarnya yang terjadi? Siapakah William the Conqueror sesungguhnya? Kenapa dia sangat berambisi untuk menjadi raja..?? Check it out aja ya....!! Tapi sebagai peringatan POST INI SANGAT PANJANG JADI MOHON BERSABAR UNTUK MEMBACANYA.  :D


WILLIAM II, SEORANG CALON PENGUASA TELAH LAHIR

William dilahirkan sekitar tahun 1027 di Falaise sebuah kota di Normandia, Perancis. Dia adalah anak hasil hubungan gelap antara Robert  I, Duke of Normandi dan Herleva, seorang gadis dari Falaise. Masa kecilnya sangat keras, beberapa kali dia menjadi target pembunuhan, bahkan tidak sedikit orang memanggilnya dengan julukan “The Bastard”, bahasa keren untuk "Anak haram". Ketika Robert I meninggal pada tahun 1035, William menjadi pewarisnya karena dia adalah satu-satunya anak laki-laki Robert. Jadi, pada usia 7 tahun, William sudah menjadi pangeran Normandia. Meskipun demikian, menjadi seorang penguasa diusia yang sangat muda bukanlah hal yang mudah. Pemberontakan dan kudeta mulai bermunculan. Tak mengherankan, sebab para bangsawan lain banyak yang tidak menyukai William. (Hemmm...!! coba kalo saya jadi bangsawan, saya mungkin juga akan berfikir begini: memang siapa William? Asal-usulnya saja tidak jelas, Ibunya hanya rakyat jelata, dan dia hanyalah anak kecil yang tak bisa apa-apa. Jadi kenapa saya tunduk sama dia? Kenapa bukan saya saja yang jadi Duke of Normandy? Toh saya lebih ganteng, keren, tenar,kuat. Harusnya saya donk yang lebih cocok jadi penguasa...!! KENAPA..?? KENAPA BUKAN SAYA YANG BERKUASAAA...???? *diteriakkan dengan nada penuh amarah*).

Nah... anggap saja para bangsawan di masa itu sesinting saya, akhirnya terjadilah banyak anarki sampai-sampai tiga pengawal William menjadi korban, bahkan guru pribadinya pun ikut tewas. Dengan bantuan Henry I, raja Prancis waktu itu, William berhasil bertahan hidup. Pada tahun 1042, William menerima gelarnya sebagai perwira militer kehormatan dan mulai melakukan agresi terhadap para pemberontak. Dengan bantuan Henry I, ia berhasil memenangkan pertempuran dengan gilang-gemilang. Kedudukan William semakin mantap dalam pemerintahan. Ia menikahi seorang bangsawan bernama Matilda (of Flanders) pada tahun 1053 di gereja Notre Dame dan dikarunia 4 putra dan 6 putri. ^_^

william sang penakluk
Hay... kenalan dulu yuk..!! Ini gue
William si calon Raja.
Merasa terancam oleh kepopuleran William yang melesat tinggi bak pesawat sukhoi dan kekuasaannya yang baru setelah sukses mempersunting sang putri bangsawan, Raja Henry I pun menghianati William dan menyerang Normandia. Dua kali ia melakukan serangan dan dua kali pula ia gagal (tahun 1054 dan 1057). Namun bukan hanya kerajaan Perancis saja yang menjadi ancaman, penghianatan juga datang dari The Earl of Arques, paman William sendiri. Dengan keberanian dan tekat keras, William, yang saat itu baru menginjak usia 20 tahun, berhasil melibas lawannya satu-demi satu dan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin karismatik yang dicintai oleh seluruh rakyat Normandia. Tidak lama kemudian, tepatnya pada tahun 1060, Raja Henry I meninggal dunia. Putranya Phillip diangkat menjadi the next King dibawah pengawasan ayah mertua William, Baldwin. Selain itu, kekuatan bangsawan lainnya juga melemah seiring kematian Geoffrey, sang penguasa Anjou yang juga merupakan sekutu Raja Henry I. Akhirnya, tinggalah William di posisi puncak, sebab kini kerajaan Perancis yang dulunya menjadi ancaman terbesar Normandia tidak lagi menjadi “sebuah ancaman” dan bangsawan lainpun enggan menyerang William. Dengan kekuatan barunya itu, masa-masa penaklukkan William pun dimulai. Mula-mula ia mengincar Le Mans dan kemudian menaklukkan Maine, sebelum akhirnya memfokuskan ambisinya pada sasaran yang lebih besar, England.


ENGLAND.....!! I AM COMING.........!!  \(^o^)/

Sebelum lanjut ke riwayatnya si Will, kita intermezzo dulu yuk...!! 
 

~~~~~~***~~~~~~

Dahulu kala... di sebuah kerajaan nan elok bernama Normandia, hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita bernama Emma. Saking cantiknya, dia sampai dijuluki sebagai “Permata Normandia” (Udah kebayang kan seberapa cantiknya si Emma ini..?). Nah, Emma ini selalu membayangkan suatu saat nanti akan ada seorang Prince Charming yang datang ke kerajaannya dan melamar dirinya dengan mas kawin sebidang tanah kerajaan lengkap dengan istana megah. Tentu saja banyak sekali orang yang ingin melamar si Emma. Namun sialnya, ia malah dinikahkan dengan seorang duda jelek beranak satu yang (sialnya lagi) memiliki kelainan psikologis dan rada-rada sadokis bernama Ethelred

emmawatson
Titisannya si 'Emma'. hehehe... ^_^
Ethelred benar-benar bukan seorang Prince Charming, bahkan seorang pria berhati lembut macam bapaknya Emma pun tau kalau Ethelred adalah seorang pengecut yang punya hobi balas dendam. Namun Ethelred datang ke Normandia dengan gilang-gemilang, membawakan mas kawin yang selama ini sangat di idam-idamkan oleh Emma: Sertifikat tanah bertuliskan “ENGLAND”. Singkat kata merekapun akhirnya menikah dan dikaruniai dua orang anak: Edward (gak pake Cullen) dan Alfred (jangan dibaca ‘kampret’, please..!!).

Ke(tidak)bahagiaan pasangan muda ini pun terusik saat sepasukan orang Denmark datang dan mengobrak-abrik istana mereka. Merasa terancam, Ethelred yang terlahir bukan sebagai prince charming, mengajak Emma melarikan diri pulang ke rumah sang mertua. Dalam masa-masa sulit itulah dia meninggal dunia. Merasa masih muda dan gak rela hidup menjanda, Emma pun menikah lagi dengan raja baru England, Canute. Canute memang musuh Ethelred, namun dia sekarang adalah Raja. Edward dan Alfred ditinggal di Normandia bersama sang kakek. Istilah kerennya sih diasingkan, sebab Emma takut suami barunya , yang kelihatannya tidak lebih charming dari yang pertama, akan mencincang mereka kalo sampai tau anak-anak imut itu berkeliaran di England.

~~~~End of the INTERMEZZO~~

Nah.. udah tau kan arah ceritanya lanjut ke mana...?  ^­­­­___^

Si Emma ini, yang notabene hobi menikahi raja-raja lalim, tak lain dan tak bukan adalah bibi dari William. Ia menitipkan anaknya untuk tinggal di Normandia, Edward dan Alfred, yang kelak akan menjadi penerus tahta England. Sejarah mencatat kalau Edward, the heir of the iron throne, sama sekali tidak berminat untuk menjadi Raja. Ia lebih suka hidup tenang di pedesaan Normandia, lebih suka mendalami agama daripada berperang, pokoknya hidup tenang lah. Edward dan William kenal satu sama lain sebab mereka dibesarkan di tempat yang sama. Edward mengakui potensi William, bahkan di satu kesempatan ia pernah berkata akan mengangkat William sebagai pewarisnya kalau kelak ia menjadi Raja. Masih belum jelas apakah Edward benar-benar serius akan ucapannya atau hanya bercanda, namun sepertinya William menganggap ucapan itu sebagai sesuatu yang sangat serius.

Singkat cerita.. Canute meninggal dunia. Harcanute, putra Canute dari pernikahannya dengan Emma, meninggal tak lama setelah memegang tahta. Kekuatan Denmark melemah dan Edward’pun dipanggil pulang dan menjadi Raja.  Ia bergelar “The Confessor” karena hobinya pergi ke gereja, membangun gereja dan melakukan pengakuan dosa. Intinya dia seperti ustad dalam wujud Raja. 

Tidak lama setelah Edward bertahta, William datang berkunjung ke England dan mengingatkan Edward akan janjinya dulu. Ia berkata bahwa karena Edward tidak memiliki keturunan, maka William yang merupakan keluarga terdekatnya dari pihak ibu adalah orang yang paling tepat untuk menjadi pewaris. Edward tidak mengiyakan dan juga tidak menolak klaim William sebab saat itu ia masih sangat galau. Ada seseorang disana yang juga ingin mengklaim tahta. Namanya adalah Harold, dan dia adalah putra Godwin, “The Most Powerful Earl” pada waktu itu. Sialnya lagi, Harold juga merupakan saudara ipar Edward dan itu membuat kedudukannya jauh lebih kuat dari William yang hanya orang asing di England.

Next..  Edward membuat rencananya sendiri. Ia membawa pewarisnya sendiri, seorang pangeran dari Hungary bernama Edward. Namun sang pangeran malah meninggal tak lama setelah menginjakkan kakinya di tanah England. Akhirnya tak ada pilihan lain bagi Edward selain mendukung William. Jacob Abbot berkata dalam bukunya “William the Conqueror” bahwa  there was serious battle between Godwin and King Edward. It seemed that Godwin had started a rebellion against the King openly with terrible power and made the King hate him and his family” (1902;92). Jelas sudah dari mana asal frase “everyone is better than Harold” dalam kamus Edward. -____-

William memang telah mendapatkan ‘restu’ Edward, namun bukan berarti ia sudah bebas melenggang menuju tahta. Dalam kasus Edward yang tidak memiliki keturunan darah, pewaris tahta kerajaan tidaklah ditentukan oleh dirinya seorang melainkan oleh sebuah institusi politik bernama Witenagemot. Jadi.. hal pertama yang harus dilakukan oleh William adalah meyakinkan komite serta membuat perjanjian dengan para bangsawan untuk mendukungnya. Sebuah kesempatan besar muncul ketika William berhasil menangkap Harold, rival terbesarnya, terdampar di pantai Normandia. Meskipun menjadi tahanan (tahun segitu memasuki wilayah negara lain tanpa ijin adalah ilegal), William tetap memperlakukan Harold dengan ramah. Ia bahkan menyiapkan perjamuan lengkap dengan wanita-wanita cantik untuk menghibur Harold. Tentu saja William memiliki maksut tersembunyi di balik tindakan terpujinya itu, ia meminta Harold  bersumpah 3 hal di depan relik suci: (1) Harold akan menyerahkan satu putrinya untuk dinikahkan dengan bangsawan Normandia, (2) Harold akan menikahi putri William (3) Harold akan mendukung sepenuhnya klaim William akan tahta England. Harold berkata YA untuk semua janji itu namun dalam hati ia mencari cara untuk menyingkirkan William. Pada tahun 1066 Raja Edward meninggal dalam damai. Sepertinya ia benar-benar tidak perduli akan siapa yang kelak menjadi pewarisnya. William sangat percaya diri bahwa dialah yang terpilih. Setelah tebar pesona kesana-kemari plus sekarang Harold tidak lagi menjadi ancaman, ia merasa sangat percaya diri. Jadi ketika hasil musyawarah diputuskan dan Harold lah yang terpilih menjadi Raja, anda bisa bayangkan sendiri seberapa merahnya wajah William saat itu.

THE HASTINGS, THE END OF HAROLD

Begitu kabar pengangkatan Harold sebagai Raja sampai ke Normandia, William sangat berang. Ia mengirimkan messenger ke England untuk mengingatkan Harold akan janjinya. Dengan tenang Harold menjawab bahwa ia tidak menganggap janji yang dibuat didepan benda seperti relic adalah sebuah “janji” yang mengikat. Merasa dikhianati, William pun segera menyiapkan pasukan untuk menyerang England. Tidak kurang dari 10.000 pasukan dan 696 kapal dikerahkan dalam penyerangan itu. Pasukan William terus bertambah seiring datangnya bala bantuan dari Perancis, Brittany, Italy dan Flander. Di England sendiri, Harold mengumpulkan pasukannya dan bersiap-siap untuk mempertahankan selat. Namun, angin yang tidak bersahabat membuat penyerangan tertunda selama 8 bulan. William berusaha mempertahankan pasukannya selama masa-masa penantian itu, namun di sisi lain selat, pasukan Harold mulai kewalahan karena mereka tidak membawa cukup banyak persediaan makanan. Pada tanggal 8 September, bertepatan dengan musim panen, ia membubarkan pasukannya dan membiarkan selat tak terjaga.

Kemudian, muncullah satu lagi orang yang ingin merebut tahta. Harald III dari Norwegia . Ia telah mendarat di York dan merupakan sebuah ancaman yang lebih ‘mengancam’ bagi Harold dan pasukannya. Harold berhasil memukul mundur pasukan Harald pada 25 September (dalam Battle of Stamford Bridge). Namun pada 28 September, pasukan William berhasil mendarat di England. Mereka berkumpul di suatu padang bernama Hastings, menunggu kedatangan pasukan Harold dari utara. Disinilah pecah pertempuran yang kelak menjadi salah satu pertempuran paling penting dalam sejarah England. Pertempuran Hastings atau The Battle of Hastings.

Masing-masing pihak sama-sama kuat, dan masing-masing pihak memiliki jumlah pasukan yang nyaris seimbang. Petempuran itu berlangsung seharian penuh tanpa ada pihak yang menyerah. Lalu Williampun mengangkat helm’nya tinggi-tinggi dan berteriak pada para pasukannya bahwa dia masih hidup, membakar semangat para Norman untuk bertarung. Pasukan Normandia menang, sebagian berkata mereka menang karena memiliki pasukan pemanah (Harold tidak membawa pasukan pemanah). Harold tewas dalam pertempuran itu, begitu pula kedua saudaranya Gyrth dan Leofwine Godwinson. Legenda mengatakan kalau ia tewas tertembus anak panah di mata. 

pertempuran hastings
England Army: "Bos.. kita gak punya panah"
King Harold: "tenang saja, kita libas mereka pake basoka."

WILLIAM DI ENGLAND

Setelah berhasil memenangkan pertempuran, William menunggu dengan sabar pengakuan kekalahan dari rakyat England. Namun sialnya, Witenagemot malah memilih Edgar Ætheling sebagai raja, meskipun tanpa pengangkatan. William memulai perjalanannya ke London untuk menuntut haknya. Namun beberapa kali ia dihalangi oleh rakyat yang mati-matian memblokade jembatan. Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya ia berhasil meyakinkan Archbishop untuk menyerah, dan kemudian seluruh rakyat London pun menyerah kalah. Upacara penobatannya dilangsungkan di hari Westminster Abbey tepat pada hari natal natal tahun 1066.

William menjadi raja. Namun saya berani mengatakan kalau memerintah tanah England itu jauh lebih sulit dari tanah manapun di dunia. Di awal kekuasaannya, rakyat tidak bisa menerima penaklukkan William dengan senang hati, karena William adalah orang Normandia, sementara sebagian besar rakyat Inggris pada waktu itu adalah orang Anglo Saxon. Pemberontakan terus terjadi di nyaris semua bagian negeri. Untuk meminimalisasikan pemberontakan, William mengatur beberapa taktik, diantaranya adalah dengan mengklaim semua tanah di England adalah miliknya kemudian membagi-bagikannya kepada orang-orang kepercayaannya. Ia juga mengurangi peran para Earl dan bangsawan lain dalam pemerintahan. Kastil-kastil kuat dibangun di hampir seluruh pelosok negeri untuk meningkatkan pengawasan. Namun faktanya, William lebih sering menghabiskan masa pemerintahannya di Normandia daripada di England. Pemerintahan England ia serahkan kepada dua orang saudara tirinya, Odo dan Robert.

William meninggal pada usia 59 tahun di Rouen, Normandia akibat jatuh dari kuda. Ia dimakamkan pada 9 September 1083 di Caen, Normandia. Sebelum meninggal, ia bertitah bahwa putranya, Robert, akan menggantikan dia sebagai Duke Normandia, dan putra keduanya, William Rufus, sebagai The King of England.

~~~~~***~~~~

TRIVIA :

1.      William adalah keturunan Viking, meskipun dia berbicara dengan dialek Perancis, terlahir di Normandia dan mengabdi pada kerajaan Perancis. Di awal abad ke 10, kakek buyut William, Rollo, datang ke utara Perancis dengan sepasukan tentara Viking dan melakukan penjarahan.  Tanah Normandia diberikan padanya sebagai tanda perdamaian.
2.      William sempat patah hati saat Matilda of Flanders menolak lamarannya dengan alasan “Aku tak mau menikah dengan seorang Bastard.”  (-___-)
3.      William tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Namun sejak kesuksesannya menaklukkan England, ia tidak perlu membawa translator lagi jika ingin berkunjung ke England, sebab sekarang orang-orang  England lah yang harus belajar bahasa Perancis.
4.      William terkenal sebagai pemuda tampan dan sexi di masa mudanya, namun menginjak hari tua tubuhnya membesar sampai-sampai Raja Perancis waktu itu menjulukinya sebagai “a pregnant woman about to give birth.”
5.      Saking gemuknya, sampai-sampai peti mati pun tak muat untuk menampung tubuhnya.
6.      Jutaan orang dianggap sebagai keturunan William, setiap keluarga bangsawan Inggris termasuk ratu Elizabeth II juga dianggap sebagai keturunan William. Beberapa ahli berpendapat bahwa 25 persen dari populasi England saat ini adalah keturunan William atau memiliki darah Norman dalam diri mereka.
7.      Nama “William” menduduki  posisi ke 8 sebagai “nama yang paling umum digunakan di Inggris”.


Sumber: Bukunya Jacob Abbot yang berjudul "William The Conqueror", beberapa pdf, random file dari Internet dan tentunya Wikipedia.

2 komentar:

  1. Thanks diceritain dalam bahasa indonesia yah! Gampang dimengerti :)

    BalasHapus
  2. thnx bro atas artikelnya :D

    BalasHapus